Manfaat Mengejutkan dari Makan Serangga (Ya, Serius) untuk Keberlanjutan & Nutrisi

Manfaat Mengejutkan dari Makan Serangga (Ya, Serius) untuk Keberlanjutan & Nutrisi
The Surprising Benefits of Eating Insects (Yes, Really) for Sustainability & Nutrition
Share This Post

Jika gagasan memakan serangga membuat Anda teringat acara survival di TV atau tantangan aneh di perkemahan musim panas, Anda tidak sendirian. Di sebagian besar negara Barat, faktor “jijik” memang nyata. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas dan memperhatikan datanya, serangga mulai terlihat bukan sekadar gimmick, melainkan jawaban serius untuk dua masalah besar: bagaimana memberi makan populasi dunia yang terus bertambah dengan protein berkualitas tinggi, dan bagaimana melakukannya tanpa memperparah kerusakan planet ini.

Serangga yang dapat dimakan sangat padat nutrisi, kaya protein, mengejutkan karena tinggi serat (berkat kitin), serta mampu menyediakan mikronutrien penting seperti zat besi, seng, dan vitamin B12 pada tingkat yang dapat menyaingi bahkan melampaui daging sapi. Pada saat yang sama, budidaya serangga umumnya menggunakan sebagian kecil lahan, air, dan pakan dibandingkan peternakan sapi atau babi, sambil menghasilkan jauh lebih sedikit gas rumah kaca—terutama jika mereka dibesarkan dengan memanfaatkan limbah makanan. Bukti ilmiah kini cukup kuat sehingga berbagai laporan kebijakan mulai menyebut serangga sebagai salah satu pilar protein masa depan yang kredibel, bukan sekadar hal baru yang unik.

Berikut ini adalah gambaran sebenarnya—baik secara nutrisi maupun lingkungan—ketika Anda mengganti (meskipun hanya sedikit) konsumsi daging dengan mealworm atau jangkrik, dan mengapa masa depan dengan “serangga di piring” mungkin lebih dekat daripada yang kita kira.


Keunggulan Nutrisi dari Makan Serangga: Hewan Kecil, Angka Besar

Tidak semua serangga diciptakan sama, tetapi secara umum mereka sangat mengesankan.

Sebuah tinjauan tahun 2025 yang merangkum serangga yang disetujui sebagai pangan di Uni Eropa menemukan bahwa, berdasarkan bahan kering:

  • Kandungan protein biasanya berkisar dari sekitar 35% (rayap) hingga 61% (jangkrik, belalang).

Beberapa spesies bahkan lebih tinggi:

  • House cricket (Acheta domesticus): sekitar 67 g protein per 100 g bahan kering
  • Migratory locust: sekitar 66 g per 100 g bahan kering

Sebagai perbandingan, daging sapi, babi, dan ayam mentah mengandung sekitar 17–20 g protein per 100 g berat segar (dengan kandungan air jauh lebih tinggi).

Di Afrika Barat, analisis rinci terhadap lima spesies serangga yang dapat dimakan menemukan tingkat protein 31–64%, dengan beberapa spesies bahkan melampaui daging sapi dalam kepadatan protein. Sebuah tinjauan tahun 2022 juga mencatat bahwa secara global, serangga telah digunakan selama ribuan tahun untuk membantu mengatasi kelaparan dan kekurangan gizi, sebagian besar karena kandungan protein dan mikronutriennya yang tinggi.


Profil Asam Amino Lengkap pada Serangga

Serangga tidak hanya menawarkan banyak protein; kualitas proteinnya juga tinggi.

  • Tinjauan ilmiah menunjukkan profil asam amino serangga “memadai” untuk nutrisi manusia dan sebanding dengan pangan hewani konvensional.
  • Hal ini berbeda dengan banyak protein nabati yang biasanya kekurangan satu atau lebih asam amino esensial.

Artinya, protein serangga dapat menjadi alat yang kuat untuk pemeliharaan otot, pertumbuhan, dan pemulihan, terutama pada populasi dengan akses terbatas terhadap daging atau produk susu.


Lemak, Serat, dan “Keistimewaan Serangga”

Setelah protein, lemak adalah makronutrien utama berikutnya.

  • Kandungan lemak bahan kering berkisar dari sekitar 13% (jangkrik/belalang) hingga 33% (kumbang).
  • Profil asam lemaknya sering mengandung lemak tak jenuh yang bermanfaat, meskipun rasio pastinya bervariasi tergantung spesies dan pakan.

Yang benar-benar membedakan serangga dari daging biasa adalah serat.

  • Serangga mengandung sekitar 5–13,6% serat makanan (bahan kering), terutama berasal dari kitin, yaitu polisakarida struktural pada eksoskeleton mereka.

Sebagian besar daging hewan tidak mengandung serat sama sekali, sehingga dalam hal ini serangga lebih mirip tanaman atau jamur.

Walaupun kedelai atau jamur kering masih memiliki serat lebih tinggi per 100 g, serat dari serangga tetap dapat membantu memenuhi target sekitar 30 g serat per hari yang direkomendasikan banyak otoritas kesehatan.


Mikronutrien: Zat Besi, Seng, B12, dan Lainnya

Serangga yang dapat dimakan juga kaya akan:

  • Zat besi – penting untuk transportasi oksigen dan pencegahan anemia
  • Seng – penting untuk sistem imun dan penyembuhan luka
  • Magnesium, fosfor, tembaga – penting untuk tulang, metabolisme energi, dan fungsi enzim
  • Vitamin B12 – nutrisi yang jarang ditemukan dalam makanan nabati, tetapi tersedia pada kadar berguna dalam banyak serangga

Sebuah analisis tahun 2021 terhadap spesies di Afrika Barat menyoroti bahwa konsumsi serangga dapat membantu mengatasi kekurangan mikronutrien pada populasi kurang gizi, mengingat kandungan zat besi dan proteinnya yang tinggi. Tinjauan tahun 2022 juga menekankan bahwa serangga telah digunakan secara historis untuk “memperbaiki malnutrisi” berkat profil nutrisinya yang sangat padat.

Ditambah lagi dengan berbagai senyawa bioaktif—seperti antioksidan, peptida antimikroba, dan inhibitor enzim—yang mulai dipelajari oleh para peneliti, serangga mulai terlihat bukan sekadar “sumber protein”, tetapi kategori makanan fungsional.


Keberlanjutan: Mengapa Serangga Mengalahkan Ternak dalam Jejak Karbon

Argumen lingkungan untuk serangga yang dapat dimakan sebenarnya sangat kuat—terutama jika dibandingkan dengan daging konvensional.

Sebuah tinjauan tahun 2022 yang membandingkan budidaya serangga dengan peternakan tradisional menyimpulkan:

  • Serangga menghasilkan emisi gas rumah kaca jauh lebih rendah
  • Membutuhkan lahan dan air jauh lebih sedikit
  • Memiliki efisiensi konversi pakan lebih baik, terutama jika diberi makan limbah organik atau produk samping

Gas Rumah Kaca

Penilaian siklus hidup (Life Cycle Assessment / LCA) secara konsisten menunjukkan bahwa per kilogram protein:

  • Daging sapi termasuk yang terburuk, dengan emisi sekitar 35 kg CO₂-ekuivalen per kg daging
  • Budidaya serangga sering berada pada kisaran 5–11 kg CO₂e per kg

Menggantikan sebagian konsumsi daging global dengan protein serangga berpotensi mengurangi dampak iklim hingga ratusan juta ton CO₂e setiap tahun. Sebuah studi pemodelan bahkan memperkirakan penggantian daging dalam skenario tertentu dapat menghindari sekitar 300 juta ton CO₂e per tahun.

Walaupun angka pastinya berbeda tergantung spesies dan metode produksi, arahnya jelas: serangga menghasilkan jauh lebih sedikit kerusakan iklim per gram protein dibandingkan sapi, dan sering kali lebih rendah daripada babi.


Penggunaan Lahan dan Air

Karena serangga berukuran kecil, berdarah dingin, dan dapat dibudidayakan secara vertikal:

  • Mereka membutuhkan jauh lebih sedikit lahan per unit protein
  • Dapat dibesarkan dalam lingkungan terkontrol, bahkan di area perkotaan
  • Penggunaan air biasanya lebih rendah dibandingkan produksi daging sapi dan susu

Efisiensi ini sangat penting di dunia dengan lahan pertanian yang semakin terbatas, tekanan air, dan kehilangan keanekaragaman hayati.


Efisiensi Pakan dan Ekonomi Sirkular

Serangga sangat unggul dalam mengubah input bernilai rendah menjadi protein bernilai tinggi.

  • Banyak spesies (seperti larva lalat tentara hitam) mampu mengubah limbah organik—sisa makanan atau produk samping pertanian—menjadi biomassa dengan sangat efisien.
  • Ini menciptakan manfaat ganda: pengurangan limbah sekaligus produksi protein, sesuai dengan konsep ekonomi sirkular.

Sebuah tinjauan tahun 2023 mengenai rantai produksi serangga mencatat bahwa mengganti daging dengan serangga dapat memberikan pengurangan dampak lingkungan terbesar, sementara penggunaan serangga sebagai pakan ternak memiliki manfaat yang lebih bervariasi.

Namun ada catatan: peternakan serangga masih memerlukan energi untuk pengendalian iklim (pemanasan, ventilasi), dan hasil LCA bisa bervariasi. Meski demikian, hampir semua penelitian menunjukkan potensi lingkungan yang kuat, terutama dibandingkan dengan ternak ruminansia.


Mengapa Banyak Orang Tidak Makan Serangga?

Di sinilah tantangannya: ilmu pengetahuan terlihat sangat menjanjikan, tetapi psikologi manusia menjadi hambatan utama.

Sebuah tinjauan global tahun 2024 tentang preferensi konsumen menemukan:

  • Penerimaan jauh lebih tinggi di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, di mana makan serangga merupakan tradisi
  • Di negara Barat, hambatan terbesar adalah rasa jijik, neophobia (takut mencoba makanan baru), dan kurangnya pengetahuan
  • Generasi muda dan pria cenderung lebih terbuka terhadap makanan berbasis serangga

Beberapa konsumen bersedia membayar lebih karena alasan keberlanjutan atau kesehatan, sementara yang lain mengharapkan harga lebih murah dibandingkan produk konvensional.

Di Barat, tingkat penerimaan masih relatif rendah tetapi tidak kecil—sekitar 17–23% di Inggris dan Spanyol dalam satu penelitian.

Tinjauan terbaru (2021–2024) mengenai sikap masyarakat Barat menyimpulkan:

  • Pengalaman sebelumnya, informasi, dan pengaruh sosial positif meningkatkan penerimaan
  • Neophobia makanan dan rasa jijik adalah hambatan terbesar
  • Bentuk produk sangat penting—orang lebih suka serangga dalam bentuk tepung, bar, atau burger dibandingkan serangga utuh

Karena itu, produk serangga di Eropa dan Amerika Utara saat ini lebih fokus pada:

  • Tepung jangkrik dalam protein bar, pasta, dan produk roti
  • Daging cincang mealworm dalam burger atau nugget
  • Bubuk serangga dalam makanan ringan dan nutrisi olahraga

Semakin tidak terlihat seperti serangga, semakin mudah produk tersebut diterima.


Kesehatan dan Keamanan Saat Mengonsumsi Serangga

Tidak ada makanan yang sempurna, dan serangga juga memiliki beberapa pertimbangan.

Tinjauan tahun 2025 tentang protein serangga menyoroti empat pilar: nilai nutrisi, sifat fungsional, bioaktivitas, dan keamanan.

Beberapa poin penting terkait keamanan:

Alergi
Serangga termasuk arthropoda, berkerabat dengan kerang dan tungau debu. Orang dengan alergi udang atau tungau mungkin bereaksi terhadap protein serangga.

Keamanan mikrobiologis dan kimia
Seperti protein hewani lainnya, kebersihan, kualitas pakan, dan proses pengolahan sangat penting. Sistem yang buruk dapat membawa patogen atau logam berat.

Pencernaan kitin
Kitin memberikan serat, tetapi beberapa orang mungkin sulit mencernanya atau mengalami ketidaknyamanan pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Karena itu, regulasi yang baik, praktik produksi yang benar, dan pelabelan yang jelas sangat penting agar makanan berbasis serangga aman dan dipercaya.

Kabar baiknya, kerangka regulasi di Uni Eropa dan wilayah lain semakin mengakui spesies serangga tertentu sebagai novel food yang disetujui, dengan evaluasi keamanan yang lengkap.


Cara Mencoba Makan Serangga (Tanpa Panik)

Jika Anda penasaran tetapi masih merasa ragu, Anda tidak perlu langsung mencoba jangkrik panggang utuh. Mulailah dengan bentuk yang lebih “ramah”.

Cari protein bar atau bubuk dari jangkrik

Produk ini menggunakan tepung jangkrik yang digiling halus dan dicampur dengan bahan yang familiar seperti cokelat, oat, atau kacang.

Coba pasta atau camilan yang diperkaya serangga

Beberapa merek menawarkan pasta, cracker, atau keripik dengan 10–20% tepung serangga.

Gunakan tepung serangga seperti tepung protein lainnya

Campurkan sedikit ke pancake, muffin, atau roti untuk meningkatkan kandungan protein.

Jika siap mencoba yang asli

Mealworm atau jangkrik panggang biasanya menjadi pilihan awal. Teksturnya mirip kacang atau biji renyah setelah Anda melewati faktor visualnya.

Catatan: jika Anda memiliki alergi terhadap kerang, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba.


Mengapa Makan Serangga Sebenarnya Penting

Manfaat mengejutkan dari makan serangga bukan hanya tentang kesehatan pribadi, tetapi juga tentang arah masa depan sistem pangan dunia.

Secara nutrisi, serangga menyediakan:

  • Protein berkualitas tinggi
  • Serat
  • Mikronutrien penting

yang dapat membantu mengatasi kekurangan gizi dan “kelaparan tersembunyi”.

Secara lingkungan, mengganti sebagian kecil permintaan protein global dari daging sapi dan daging intensif sumber daya lainnya ke serangga dapat secara drastis mengurangi emisi, penggunaan lahan, dan tekanan air.

Secara ekonomi, budidaya serangga sangat cocok dengan model ekonomi sirkular, mengubah limbah menjadi makanan dan menciptakan rantai nilai baru.

Anda tidak perlu sepenuhnya beralih ke serangga untuk membuat perubahan. Bahkan penggantian sesekali—misalnya camilan berbasis jangkrik menggantikan beef jerky—sudah menjadi langkah kecil menuju campuran protein yang lebih berkelanjutan.

Dan secara budaya, semakin kita menormalisasi serangga sebagai bahan makanan biasa (seperti yang pernah terjadi pada sushi, tahu, atau susu nabati), semakin mudah membangun sistem pangan yang lebih sehat sekaligus lebih ramah bagi planet ini.

Jadi ya, benar: makan serangga bisa baik untuk kesehatan Anda dan juga untuk Bumi.
Ilmunya sudah ada—sekarang tinggal pikiran dan kebiasaan kita yang perlu mengejar ketertinggalannya.

Sources:

Share This Post